Postingan

Adil Itu Tak Selalu Harus Sama Rata

Gambar
Kadang kita mengira berlaku adil itu artinya semua harus mendapat bagian yang sama. Kalau kakak dibelikan sepatu, adik juga harus dibelikan sepatu. Kalau anak pertama diberi uang Rp50.000, anak kedua juga harus Rp50.000. Pokoknya sama rata, supaya tidak ada yang merasa dibedakan. Tapi ternyata, adil tidak selalu berarti sama. Ada istilah equality dan equity . Equality berarti memberikan perlakuan yang sama. Sedangkan equity berarti memberikan sesuai kebutuhan dan keadaan masing-masing. Keduanya bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Misalnya soal aturan keluarga . Semua anak tidak boleh berbohong. Semua harus menghormati orang tua dan saudaranya. Semua harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Tidak ada aturan, “Kakak tidak boleh berbohong, tapi adik boleh karena dia anak kesayangan emak.” Nah, kalau begini emak-emak pasti protes. 😄 Dalam hal seperti ini, equality diperlukan . Ada nilai dan aturan dasar yang berlaku sama bagi semua. Tetapi coba kita pindah ke pers...

Mau Bahagia?_ Kenali Diri Sendiri...

Gambar
  Mengenal Diri Sendiri, Benarkah Membuat Kita Bahagia? “ Siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dialah orang yang bahagia. ” Ada ungkapan semacam ini yang sering kita temukan ketika membicarakan tentang mengenal diri. Pemikiran serupa juga banyak muncul dalam pembahasan para ulama dan filsuf Muslim.  Al-Ghazali  menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak dapat dipenuhi melalui kesenangan fisik belaka tapi  d ari kesadaran bahwa manusia memiliki jiwa/hati. Untuk mencapai kesadaran itu, maka manusia harus mengetahui atau mengenal terlebih dahulu tentang jiwanya. Kedengarannya sederhana ya, Kenali dirimu, lalu hiduplah dengan bahagia. Tapi kemudian saya berpikir, memangnya manusia benar-benar bisa mengenali dirinya sendiri? Kalau mengenali diri itu mudah, mestinya semua orang bisa melakukannya.  Dan kalau mengenal diri otomatis membuat seseorang bahagia, mestinya dunia ini dipenuhi orang-orang yang hidupnya tenang. Faktanya Tidak. Coba deh lihat saat  ini, ...

Apakah Multitasking itu Keren ?

Gambar
Apa itu Multitasking? Dalam psikologi, multitasking adalah usaha melakukan dua atau lebih aktivitas dalam waktu yang hampir bersamaan.  Namun, pada banyak aktivitas yang membutuhkan perhatian sadar, otak sebenarnya tidak benar-benar mengerjakan semuanya secara paralel. Yang lebih sering terjadi adalah task switching yaitu   perhatian berpindah cepat dari tugas A ke tugas B, lalu kembali lagi. Otak Terbagi Katanya perempuan itu jago multitasking. Satu tangan mengaduk masakan, satu mata melihat grup WhatsApp, pikiran mengingat tugas kuliah, memikirkan deadline pekerjaan, sambil telinga mendengarkan panggilan, “Bundaaaa….” Kadang rasanya kepala ini isinya belasan tab yang terbuka sekaligus. Sebagai ibu rumah tangga, mahasiswa, sekaligus pekerja, kita cukup akrab dengan multitasking.  Bahkan dulu saya menganggap kemampuan mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan adalah salah satu tanda produktif. Semakin banyak yang dikerjakan, semakin hebat. Ternyata psikologi melihatnya...

Harga Sebuah Kedewasaan

Gambar
Bertumbuh Berarti Berani Kehilangan “Setiap perubahan besar dalam hidup selalu melibatkan pendewasaan sekaligus kehilangan.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan perjalanan hidup kita. Kita sering membayangkan perkembangan sebagai proses bertambah : bertambah usia, pengalaman, pengetahuan, kemampuan, tanggung jawab, atau kedewasaan. Padahal, perkembangan juga merupakan proses berkurang dan melepaskan . Seorang anak yang mulai sekolah memperoleh dunia baru, teman, pengetahuan, dan kemandirian. Tetapi pada saat yang sama, ia mulai kehilangan sebagian kenyamanan masa kecilnya. Seorang remaja mulai memperoleh kebebasan untuk menentukan pilihan. Namun ia juga perlahan kehilangan dunia kanak-kanak, ketika banyak keputusan masih dibuatkan oleh orang tua. Ketika seseorang menikah, ia memperoleh pasangan dan membangun keluarga baru. Tetapi ada sebagian kebebasan hidup sebagai seorang lajang yang harus dilepaskan. Ketika menjadi orang tua, seseorang memperoleh p...

FENOMENA "AKU"

Gambar
  Fenomena “Aku” “Aku berhak bahagia”,  “aku butuh ruang”,  “aku tidak mau ikut campur”,  “yang penting tidak mengganggu orang lain”. “Bukan urusanku.” “Aku tidak membutuhkan orang lain.” “Selama tidak merugikan aku, aku tidak peduli.” “Agamaku cukup menjadi urusan pribadiku dengan Tuhan.” Pernyataan-pernyataan itu Sebagian sehat sebagai batas diri, tetapi ketika semuanya berpusat pada kepentingan pribadi, munculah  individualisme.  Apakah Islam memang mendidik manusia untuk hidup seperti itu? Jawabnya Islam tidak menghapus “Aku”. Setiap manusia tetap bertanggung jawab secara personal di hadapan Allah : Iman, niat, amal, dosa dan taubat tidak bisa diwakilkan.  coba kita perhatikan Rukun Islam, ada syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji.  ini menggambarkan bahwa  Sebelum menjadi bagian dari jamaah, seorang Muslim terlebih dahulu menegakkan tauhid: aku bersaksi . Hubungan manusia dengan Allah menjadi fondasi.  Tetapi Islam tidak ber...

M A A F

Gambar
MAAF Satu kata yang ajaib Jika berdiri sendiri, ia menjadi sebuah kata sederhana— maaf —yang kita ucapkan saat meminta pengampunan atas kesalahan. Namun ketika diberi imbuhan, ia berubah menjadi-  memaafkan-. Keduanya terdengar sederhana. Mudah diucapkan, tetapi ternyata tidak selalu mudah dilakukan dengan hati. Ada kesalahan yang mungkin terasa begitu dalam hingga kata maaf seakan tersangkut di ujung lidah. Ingin mengucapkannya, tetapi ego menahannya. Ingin memaafkan, tetapi luka masih terasa nyata. Padahal, meminta maaf bukan sesuatu yang memalukan. Meminta maaf bukan berarti kita lemah. Bukan pula sekadar mengakui kekalahan. Justru, meminta maaf adalah cerminan kebesaran jiwa . Sebuah keberanian untuk meruntuhkan ego, mengakui kekurangan diri, dan memilih kedamaian daripada mempertahankan gengsi. Demikian pula dengan memaafkan . Memaafkan bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain. Bukan pula berarti luka yang pernah diberikan menjadi tidak berarti...

“Siapa yang salah?”

Gambar
  “Siapa yang salah?” Kita mungkin sering sekali bertanya "Siapa yang salah? " saat suatu kondisi yang tidak baik terjadi. Bahkan dari kecil sudah dibiasakan mencari SIapa yang salah. contohnya seorang anak balita ketika terjatuh karena lantainya licin, lalu menangis kemudian ibunya datang menenangkan sambil bilang, " duh..nakal ya lantainya..." . pernah mengalami ini? atau masih dilakukan sampai sekarang? Lalu mindset  mencari "siapa yang salah" akan terus dibawa sampai dewasa.  tak heran ketika dihadapkan pada kondisi-kondisi yang tidak nyaman, pikiran akan langsung mencari siapa yang salah. kita tak pernah mencari ke dalam diri lebih dahulu.  Saat ini kondisi negara kita sedang tidak baik, Korupsi sudah seperti cerita sinetron, berjilid-jilid. Kekuasaan diperoleh dengan cara-cara yang tidak jujur dan banyak lagi yang dirasakan oleh rakyat.  Namun dalam pikiran kita langsung menunjuk SIAPA YANG SALAH?.   Pernahkah kita berpikir bagian man...