Adil Itu Tak Selalu Harus Sama Rata
Kadang kita mengira berlaku adil itu artinya semua harus mendapat bagian yang sama.
Kalau kakak dibelikan sepatu, adik juga harus dibelikan sepatu.
Kalau anak pertama diberi uang Rp50.000, anak kedua juga harus Rp50.000.
Pokoknya sama rata, supaya tidak ada yang merasa dibedakan.
Tapi ternyata, adil tidak selalu berarti sama.
Ada istilah equality dan equity.
Equality berarti memberikan perlakuan yang sama.
Sedangkan equity berarti memberikan sesuai kebutuhan dan keadaan masing-masing.
Keduanya bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
Misalnya soal aturan keluarga.
Semua anak tidak boleh berbohong.
Semua harus menghormati orang tua dan saudaranya.
Semua harus bertanggung jawab atas kesalahannya.
Tidak ada aturan, “Kakak tidak boleh berbohong, tapi adik boleh karena dia anak kesayangan emak.”
Nah, kalau begini emak-emak pasti protes. π
Dalam hal seperti ini, equality diperlukan. Ada nilai dan aturan dasar yang berlaku sama bagi semua.
Tetapi coba kita pindah ke persoalan lain.
Kakak membutuhkan sepatu baru karena sepatunya sudah sempit, sementara sepatu adik masih bagus. Apakah supaya adil keduanya harus dibelikan sepatu baru?
Tidak juga.
Atau ketika salah satu anak sedang sakit, perhatian kita kepadanya tentu lebih banyak. Bukan berarti kita lebih menyayanginya daripada anak yang lain. Saat itu, dialah yang membutuhkan perhatian lebih.
Begitu juga dalam membagi pekerjaan rumah.
Anak usia 15 tahun tentu tidak harus mendapat tugas yang persis sama dengan adiknya yang berusia 7 tahun. Sama-sama punya tanggung jawab, tetapi porsinya disesuaikan dengan usia dan kemampuannya.
Inilah equity.
Jadi, equality bukan sesuatu yang salah. Ada hal-hal yang memang harus diberlakukan sama. Tetapi ada pula keadaan ketika memberikan sesuatu sama rata justru belum tentu adil.
Menjadi orang tua rupanya bukan hanya belajar membagi sama banyak. Kita juga harus belajar melihat siapa yang membutuhkan apa, siapa yang mampu melakukan apa, dan kapan sesuatu memang harus berlaku sama untuk semuanya.
Karena dalam keluarga, adil tidak selalu berarti sama.
Ada saatnya adil berarti sama.
Ada saatnya adil berarti sesuai kebutuhan.
Yang terpenting, jangan sampai perbedaan berubah menjadi pilih kasih.
Wallau 'Alam
terinspirasi dari obrolan singkat bersama si bungsu
Komentar
Posting Komentar