“Siapa yang salah?”

 “Siapa yang salah?”

Kita mungkin sering sekali bertanya "Siapa yang salah?" saat suatu kondisi yang tidak baik terjadi. Bahkan dari kecil sudah dibiasakan mencari SIapa yang salah.
contohnya seorang anak balita ketika terjatuh karena lantainya licin, lalu menangis kemudian ibunya datang menenangkan sambil bilang, "duh..nakal ya lantainya...". pernah mengalami ini? atau masih dilakukan sampai sekarang?

Lalu mindset mencari "siapa yang salah" akan terus dibawa sampai dewasa. 

tak heran ketika dihadapkan pada kondisi-kondisi yang tidak nyaman, pikiran akan langsung mencari siapa yang salah. kita tak pernah mencari ke dalam diri lebih dahulu. 

Saat ini kondisi negara kita sedang tidak baik, Korupsi sudah seperti cerita sinetron, berjilid-jilid. Kekuasaan diperoleh dengan cara-cara yang tidak jujur dan banyak lagi yang dirasakan oleh rakyat. 

Namun dalam pikiran kita langsung menunjuk SIAPA YANG SALAH?.  Pernahkah kita berpikir bagian mana dalam ketidaknyamanan ini yang menjadi tanggung jawabku sebagai pribadi dan juga sebagai rakyat?

Menulis ini bukan karena saya sudah melakukannya, tapi pikiran saya sudah mengarah ke sana. saya mulai berpikir, apa andilku dari kondisi negara saat ini? walaupun saya bukan pejabat, bukan orang yang punya popularitas, saya hanya seorang ibu rumah tangga yang peduli pada negara, karena saya peduli pada keluarga.

Saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah menjadi pribadi yang baik?, Karakter yang saya harapkan ada pada orang yang selama ini saya tunjuk sebagai orang yang bersalah.

Saya menuntut pemimpin jujur. Apakah saya sudah membiasakan kejujuran di rumah?

Saya marah melihat orang menyalahgunakan kekuasaan. Ketika saya mempunyai kuasa terhadap orang yang lebih lemah di rumah, apakah saya selalu menggunakannya dengan adil?

Saya kecewa melihat orang tidak amanah. Bagaimana dengan amanah kecil yang Allah titipkan kepada saya?

Saya menuntut pemerintah mau menerima kritik. Ketika pasangan atau anak mengoreksi saya, apakah saya mampu mendengarnya?

Saya ingin hukum ditegakkan tanpa pilih kasih. Ketika terjadi konflik di keluarga, apakah saya adil—atau membela orang yang saya sukai?

Saya mengeluhkan masyarakat yang kasar dan mudah mencaci. Bagaimana dengan lisan saya ketika sedang marah?

Di sinilah QS Ar-Ra'd:11 sangat relevan sebagai landasan muhasabah: 

"Allah menyatakan bahwa Dia tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka"

Negara bukan sesuatu yang jatuh dari langit dalam keadaan terpisah dari rakyatnya. Masyarakat terdiri atas keluarga-keluarga; keluarga terdiri atas individu-individu.

Maka, memperbaiki diri dan keluarga adalah salah satu wilayah perubahan sosial yang berada pada kendali kita. Kita tak bisa langsung merubah negara, tapi kita bisa pelan-pelan merubah pribadi kita dan keluarga.

QS. Al-Anfal ayat 25:

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.”

Ayat ini sangat relevan dengan arah muhasabah: kerusakan sosial dapat berdampak lebih luas bukan hanya kepada orang yang melakukan kezaliman saja. 

Karena itu, kepedulian terhadap keadaan sekitar kita tidak berhenti pada menyalahkan pihak lain, tetapi juga mendorong setiap orang melihat apa yang dapat diperbaiki dari dirinya, keluarganya, dan lingkungannya. 

Wallahu 'Alam 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rakyat, Pemimpin, dan Kepercayaan

Validasi Status Sosial, Perlukah dan apa dampaknya jika berlebihan ??