Rakyat, Pemimpin, dan Kepercayaan
ketika sedih dengan kondisi negara saat ini, haruskah menyalahkan pemerintah? bolehkah mengkritik pemerintah?
jawabannya tak sekedar Ya/Tidak,
tapi coba kita analogikan negara ini adalah satu rumah, dan di dalam rumah terdapat keluarga yang berisi kepala keluarga dan anggota keluarga.
Kepala keluarga yang memimpin, dia punya power juga punya tanggung jawab. dan ada anggota keluarga yang punya hak untuk dilindungi, diberikan kasih sayang tapi juga punya kewajiban untuk patuh.
hubungan ini bukan hanya sekedar bicara hak dan kewajiban, tapi ada tali yang tak terlihat yang justru berpengaruh pada ketenangan rumah. apa itu?
Dalam keluarga, ketenangan tidak hanya dibangun oleh pembagian hak dan kewajiban. Kepala keluarga mempunyai kewenangan sekaligus tanggung jawab. Anggota keluarga mempunyai kewajiban, kepedulian, dan ruang untuk menyampaikan ketidaksetujuan. Tetapi hubungan itu akan mudah retak ketika kepercayaan hilang.
Analogi ini bisa membantu membaca hubungan rakyat dan pemerintah, dalam islam ketaatan kepada ulil amri memang diperintahkan, tetapi bukan ketaatan mutlak; QS An-Nisa' 4:59 menempatkannya dalam kerangka ketaatan kepada Allah dan Rasul serta mengajarkan penyelesaian ketika terjadi perselisihan.
Karena itu, ketika sedih melihat keadaan negara, pilihannya sebenarnya bukan hanya dua: menyalahkan pemerintah atau diam.
Mengkritik kebijakan tidak otomatis berarti membenci pemerintah. Sebaliknya, menghormati pemerintah juga tidak berarti menganggap setiap kebijakannya benar. Dalam Sahih Muslim bahkan terdapat prinsip ad-dīnu an-naṣīḥah, agama adalah nasihat dan salah satu pihak yang disebut adalah para pemimpin kaum Muslimin.
jika dalam sebuah keluarga, seorang istri atau anak yang mencintai keluarganya dapat mengatakan, “Ayah, keputusan ini keliru dan dampaknya buruk bagi kita.” Kritik itu bisa lahir karena peduli, bukan karena ingin meruntuhkan posisi ayah.
Demikian pula seorang kepala keluarga yang ingin tetap dipercaya tidak cukup berkata, “Aku kepala keluarga, maka patuhilah aku.” Kepercayaan dipelihara melalui tanggung jawab, keadilan, keterbukaan, kesediaan mendengar, dan keberanian memperbaiki kesalahan.
Jadi ada beberapa “tali tak terlihat” sebenarnya: kepercayaan, rasa aman, kepedulian, penghormatan, dan rasa memiliki. Dari semuanya, saya kira kepercayaan adalah simpul utamanya.
Ketika kepercayaan kuat, kritik dapat terdengar sebagai nasihat.
Ketika kepercayaan melemah, nasihat mudah dianggap serangan.
Ketika kepedulian hilang, orang bahkan mungkin berhenti mengkritik bukan karena semuanya baik, tetapi karena sudah merasa tidak memiliki.
Maka pertanyaan saya di awal “Haruskah kita mengkritik pemerintah?", yang lebih tepat pertanyaan itu menjadi :
“Ketika melihat sesuatu yang menurut kita keliru di negeri ini, bagaimana kita tetap menjadi warga yang peduli, berani menyampaikan yang benar, tetapi tidak kehilangan adab, keadilan, dan rasa memiliki terhadap negeri sendiri?”
Komentar
Posting Komentar