Harga Sebuah Kedewasaan


Bertumbuh Berarti Berani Kehilangan

“Setiap perubahan besar dalam hidup selalu melibatkan pendewasaan sekaligus kehilangan.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan perjalanan hidup kita.

Kita sering membayangkan perkembangan sebagai proses bertambah: bertambah usia, pengalaman, pengetahuan, kemampuan, tanggung jawab, atau kedewasaan.

Padahal, perkembangan juga merupakan proses berkurang dan melepaskan.

Seorang anak yang mulai sekolah memperoleh dunia baru, teman, pengetahuan, dan kemandirian. Tetapi pada saat yang sama, ia mulai kehilangan sebagian kenyamanan masa kecilnya.

Seorang remaja mulai memperoleh kebebasan untuk menentukan pilihan. Namun ia juga perlahan kehilangan dunia kanak-kanak, ketika banyak keputusan masih dibuatkan oleh orang tua.

Ketika seseorang menikah, ia memperoleh pasangan dan membangun keluarga baru. Tetapi ada sebagian kebebasan hidup sebagai seorang lajang yang harus dilepaskan.

Ketika menjadi orang tua, seseorang memperoleh pengalaman luar biasa mencintai dan merawat seorang anak. Namun bersamaan dengan itu, ia harus merelakan sebagian waktu, kenyamanan, bahkan keinginan pribadinya.

Demikian pula ketika usia semakin bertambah. Kita mungkin memperoleh kebijaksanaan dan kematangan yang dahulu tidak kita miliki. Tetapi kita juga mulai berhadapan dengan berbagai kehilangan: tenaga yang tidak lagi sama, perubahan tubuh, anak-anak yang semakin mandiri, orang-orang yang pergi, kesempatan yang berlalu, atau impian yang ternyata harus berubah.

Itulah mengapa perkembangan manusia tidak selalu terasa menyenangkan.

Kadang-kadang kita sedang bertumbuh, tetapi rasanya justru seperti sedang kehilangan.

Mengapa kehilangan dapat mendewasakan?

Karena kehilangan memaksa manusia berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak semua hal dapat dipertahankan selamanya.

Ada masa ketika kita harus melepaskan cara berpikir lama.

Ada masa ketika sebuah peran harus berubah.

Ada masa ketika sesuatu yang dahulu penting tidak lagi menjadi prioritas.

Bahkan ada masa ketika kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada suatu versi diri kita sendiri.

Dulu mungkin kita membutuhkan pengakuan banyak orang. Setelah semakin matang, kita belajar bahwa tidak semua orang harus memahami kita.

Dulu kita ingin memenangkan setiap perdebatan. Kemudian kita belajar bahwa menjaga hubungan kadang lebih berharga daripada membuktikan bahwa kita benar.

Dulu kita menganggap kebahagiaan berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa kebahagiaan juga dapat berarti menerima apa yang tidak dapat kita ubah.

Di sinilah kehilangan bertemu dengan pendewasaan.

Kehilangan mengambil sesuatu dari kehidupan kita, tetapi proses menghadapinya dapat membentuk sesuatu di dalam diri kita.

Kesabaran.

Penerimaan.

Kemampuan beradaptasi.

Kebijaksanaan.

Dan kesadaran tentang apa yang benar-benar penting.

Tidak semua kehilangan berarti kemunduran

Ini bagian yang menurut saya penting.

Ketika sesuatu berubah dan kita merasa sedih, bukan berarti kita gagal berkembang.

Kesedihan justru dapat menjadi bagian normal dari sebuah transisi.

Seorang ibu dapat bangga melihat anaknya semakin mandiri sekaligus merasa sedih karena tidak lagi terlalu dibutuhkan.

Seseorang dapat merasa lega meninggalkan pekerjaan yang melelahkan, tetapi tetap merindukan rutinitas, teman-teman, atau identitas yang pernah melekat pada pekerjaannya.

Kita dapat mengetahui bahwa sebuah keputusan adalah keputusan yang tepat, tetapi tetap merasa kehilangan.

Dua perasaan yang tampaknya bertentangan itu bisa hadir bersamaan:

“Aku bersyukur dengan kehidupan yang baru ini.”

dan

“Aku tetap merindukan kehidupan yang dulu.”

Keduanya tidak harus saling meniadakan.

Islam sendiri mengajarkan bahwa kehidupan manusia memang bergerak dari satu keadaan menuju keadaan yang lain.

Allah berfirman:

“Sungguh, kamu benar-benar akan menjalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).”
(QS. Al-Insyiqaq: 19)

Manusia tidak diciptakan untuk menetap pada satu fase selamanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, kemudian dewasa. Pernah kuat, kemudian suatu hari kekuatan itu berkurang. Pernah memiliki, kemudian mungkin kehilangan. Pernah bersama, kemudian suatu saat harus berpisah.

Karena itu, kedewasaan bukan kemampuan mempertahankan semua yang kita miliki.

Kadang kedewasaan justru terlihat dari kemampuan mengetahui apa yang harus diperjuangkan, apa yang harus dipertahankan, dan apa yang memang sudah waktunya dilepaskan.

Dan barangkali inilah salah satu pelajaran terbesar dalam perkembangan manusia:

Kita tidak pernah memasuki fase kehidupan yang baru dengan membawa seluruh kehidupan lama bersama kita.

Ada yang kita bawa sebagai bekal.
Ada yang kita simpan sebagai kenangan.
Ada yang kita ambil sebagai pelajaran.
Dan ada yang harus kita ikhlaskan sebagai bagian dari perjalanan.

Sebab bertumbuh bukan hanya tentang menjadi seseorang yang baru.

Bertumbuh juga tentang berdamai dengan kenyataan bahwa kita tidak lagi menjadi seseorang yang dahulu.

Dan mungkin, itulah mengapa semakin panjang perjalanan hidup seseorang, semakin banyak pula yang ia pahami:

setiap pendewasaan mempunyai harga berupa sesuatu yang harus dilepaskan. Tetapi tidak semua yang hilang membuat hidup kita berkurang. Sebagian kehilangan justru menyediakan ruang agar sesuatu yang baru dapat tumbuh. Dan inilah harga dari sebuah Kedewasaan

Wallahu 'Alam

Terinspirasi dari Psikologi Perkembangan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Siapa yang salah?”

CAMP MR_2

Rakyat, Pemimpin, dan Kepercayaan