Mau Bahagia?_ Kenali Diri Sendiri...
Mengenal Diri Sendiri, Benarkah Membuat Kita Bahagia?
“Siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dialah orang yang bahagia.”
Ada ungkapan semacam ini yang sering kita temukan ketika membicarakan tentang mengenal diri. Pemikiran serupa juga banyak muncul dalam pembahasan para ulama dan filsuf Muslim. Al-Ghazali menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak dapat dipenuhi melalui kesenangan fisik belaka tapi dari kesadaran bahwa manusia memiliki jiwa/hati. Untuk mencapai kesadaran itu, maka manusia harus mengetahui atau mengenal terlebih dahulu tentang jiwanya.
Kedengarannya sederhana ya, Kenali dirimu, lalu hiduplah dengan bahagia.
Tapi kemudian saya berpikir, memangnya manusia benar-benar bisa mengenali dirinya sendiri?
Kalau mengenali diri itu mudah, mestinya semua orang bisa melakukannya.
Dan kalau mengenal diri otomatis membuat seseorang bahagia, mestinya dunia ini dipenuhi orang-orang yang hidupnya tenang. Faktanya Tidak.
Coba deh lihat saat ini, kita hidup di zaman dimana informasi tentang self-love, self-care, healing, inner child, mindfulness, dan kesehatan mental sering dibahas. Tapi pada saat yang sama, kita juga semakin sering mendengar orang mengalami kecemasan/anxienty, depresi, burnout, kehilangan arah hidup, bahkan ada yang ingin mengakhirinya karena tidak tahu lagi apa yang mereka inginkan.
Mungkin persoalannya bukan karena manusia sama sekali tidak mengenal dirinya. Mungkin kita hanya mengenal sebagian kecil dari diri kita.
Kita Sering Mengenal Identitas, Bukan Diri
Kalau seseorang bertanya, “Siapa kamu?”. Kita biasanya menjawab dengan identitas.
- Saya seorang ibu.
- Saya seorang istri.
- Saya mahasiswa.
- Saya pegawai
- Saya anak dari keluarga ini.
- Saya berumur sekian.
- Saya tinggal di kota ini.
Tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut. Tapi itu baru menjelaskan peran kita, belum tentu menjelaskan siapa diri kita.
Karena di balik semua peran itu masih ada pertanyaan lain.
- Apa yang sebenarnya penting bagi saya?
- Apa yang paling saya takutkan?
- Apa yang membuat saya mudah tersinggung?
- Mengapa saya selalu membutuhkan pengakuan orang lain?
- Mengapa komentar sederhana seseorang bisa begitu menyakitkan?
- Mengapa saya sulit mengatakan tidak?
- Mengapa saya terus mengulang kesalahan yang sama?
- Apa yang sebenarnya sedang saya cari dalam hidup ini?
Nah, mulai terasa lebih sulit, kan? _Di situlah proses mengenal diri sebenarnya dimulai.
Mengenal Diri Bukan Sekadar Mengetahui Kelebihan dan Kekurangan
Kita sering mengira mengenal diri berarti bisa membuat daftar:
“Kekurangan saya itu.”
“Saya introvert.”
“Saya melankolis.”
“Love language saya ini.”
“MBTI saya itu.”
Semua tools tersebut bisa membantu memberikan gambaran, tapi tetap saja itu hanyalah peta, bukan keseluruhan wilayah diri kita. Karena mngenal diri jauh lebih dalam daripada sekadar mengetahui tipe kepribadian.
Mengenal diri berarti mulai memahami pola-pola yang bekerja di dalam diri kita.
- Ketika saya dikritik, apa yang langsung muncul dalam pikiran saya?
- Ketika keinginan saya tidak terpenuhi, bagaimana saya bereaksi?
- Ketika saya takut, apakah saya menghindar, menyerang, diam, atau justru ingin mengendalikan semuanya?
- Ketika saya kecewa kepada seseorang, apakah sebenarnya saya sedang marah kepada orang tersebut, atau ada kebutuhan saya yang tidak terpenuhi?
Kita merasa sudah ikhlas. Sampai sesuatu yang kita cintai harus dilepaskan.
Kita merasa tidak terlalu membutuhkan penilaian manusia. Sampai suatu hari kita tidak dihargai.
Ternyata keadaan sering menjadi cermin yang memperlihatkan bagian diri yang selama ini tersembunyi.
Jadi, Apakah Mengenal Diri Membuat Kita Bahagia?
Menurut saya, perlu diluruskan dulu arti “bahagia”. Bahagia bukan berarti hidup tanpa kesedihan, bukan berarti tidak pernah kecewa, bukan pula berarti setelah mengenal diri kita menjadi manusia yang selalu tenang, positif, dan tersenyum setiap hari. Tidak begitu.
Justru semakin mengenal diri, kita mungkin menemukan hal-hal yang tidak menyenangkan tentang diri sendiri.
Kita menemukan:
- Ego.
- Luka lama.
- Rasa iri.
- Kebutuhan akan pengakuan.
- Kebiasaan menyalahkan orang lain.
- Pola-pola buruk yang ternyata selama ini ikut menciptakan persoalan dalam hidup kita.
Tidak selalu nyaman. Tetapi dari situlah perubahan bisa dimulai. Karena sesuatu yang tidak kita sadari sulit untuk kita perbaiki.
Mungkin kebahagiaan yang dimaksud bukan perasaan senang terus-menerus. Melainkan keadaan ketika seseorang semakin memahami siapa dirinya, menerima bahwa dirinya memiliki kekuatan sekaligus keterbatasan, lalu mampu menjalani hidup dengan arah yang lebih jelas.
Lalu, Bagaimana Cara Mengenali Diri?
Mengenal diri adalah proses panjang, mungkin sepanjang hidup dan bahkan tidak ada satu tes pun yang memberikan hasil pasti.
Tetapi kita bisa memulainya dari beberapa hal sederhana.
[DIsclaimer: 7 cara ini bagian dari opini, untuk lebih dalam silahkan menemukan referensi dari ahlinya]
1. Belajar mengamati diri sendiri
Coba sesekali jangan langsung bereaksi terhadap suatu kejadian.
- Amati dulu.
- Apa yang saya pikirkan?
- Apa yang saya rasakan?
- Mengapa saya bereaksi seperti ini?
- Apa sebenarnya yang sedang saya butuhkan?
Contohnya, seseorang mungkin berkata,
Tetapi setelah direnungkan lebih jauh, ternyata yang dirasakan bukan sekadar marah. Ada perasaan tidak dianggap, ada kebutuhan untuk dihargai, mungkin ada harapan yang tidak terpenuhi.
Di situlah kita mulai mengenal lapisan yang lebih dalam dari diri sendiri.
2. Perhatikan hal-hal yang berulang, lihat polanya.
Hidup kita biasanya memiliki pola. Persoalannya mungkin berganti orang dan tempat, tetapi rasanya mirip.
Selalu takut ditinggalkan.
Selalu sulit menolak permintaan orang.
Selalu marah ketika keadaan tidak sesuai rencana.
Selalu mencari validasi.
Kalau sebuah persoalan terus berulang, mungkin ada sesuatu dalam diri yang perlu dilihat lebih dekat.
Kita bisa bertanya: “Apa bagian saya dalam pola ini?”
3. Berani menerima sisi diri yang tidak menyenangkan
Ini mungkin bagian yang paling tidak mudah. Kita senang mengakui bahwa kita baik, penyayang, bertanggung jawab, atau sabar. Tetapi bagaimana kalau ternyata kita punya sisi yang tidak baik, masih ada:
- Iri?
- Takut kalah?
- Ingin dikagumi?
- Sulit menerima kritik?
Mengenal diri membutuhkan keberanian untuk berkata: “Oh, ternyata ada bagian tidak baik dalam diriku.”
Tapi pengakuan ini bukan untuk membenci diri, namun untuk memperbaikinya. Karena menerima kenyataan tentang diri berbeda dengan membenarkan semua perilaku kita.
4. Dengarkan tubuh dan emosi
Tubuh sering memberi sinyal lebih dulu sebelum pikiran kita menyadarinya. Dada terasa sesak, sulit tidur, terasa lelah, kepala terasa banyak yang dipikirkan.
Kita juga mudah tersinggung, sedih, atau marah. Nah emosi dan tubuh bukan musuh yang harus selalu ditekan atau diacuhkan, tapi keduanya bisa menjadi informasi.
Mungkin kita terlalu lelah, mungkin ada persoalan yang tidak pernah benar-benar selesai atau mungkin kita membutuhkan bantuan.
Belajar membaca sinyal-sinyal tersebut juga bagian dari mengenal diri.
5. Belajar menerima masukan
Ada bagian diri yang bisa kita lihat sendiri. tapi faktanya ada juga yang lebih mudah dilihat orang lain.
Karena itu kita membutuhkan orang yang cukup jujur untuk menilai kita dengan kritiknya.
Tidak semua kritik harus diterima mentah-mentah. Tetapi jangan juga semua kritik langsung kita buang.
Kadang-kadang orang lain menjadi cermin yang menunjukkan sesuatu yang luput dari pandangan kita.
6. Luangkan waktu untuk diam
Tidak harus pergi "healing" jauh-jauh. Kadang cukup duduk setelah salat, menulis jurnal, berjalan sebentar tanpa ponsel, atau bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diriku akhir-akhir ini?”
7. Mengenal diri seharusnya membawa kita semakin mengenal posisi kita di hadapan Allah
Dalam perspektif Islam, manusia tidak hidup hanya untuk menemukan “siapa aku”, tetapi juga memahami: Untuk apa aku diciptakan?
- Saya punya keinginan, tetapi tidak semua keinginan harus diikuti.
- Saya punya emosi, tetapi tidak semua emosi harus menentukan tindakan.
- Saya punya kekuatan, tetapi saya tetap terbatas.
- Saya punya rencana, tetapi ada Allah yang menentukan hasil akhirnya.
Mengenali kelebihan supaya bisa digunakan dalam kebaikan.
Mengenali luka supaya tidak terus melukai orang lain.
Mengenali keinginan supaya bisa membedakan mana kebutuhan dan mana sekadar dorongan ego dan nafsu.
Dan mengenali keterbatasan supaya kita tahu bahwa tidak semua hal harus kita kendalikan.
Mengenal Diri Adalah Sebuah Perjalanan
Mungkin kita tidak akan pernah selesai mengenali diri sendiri. Karena kita terus berubah.
Diri kita di usia 20 tahun tidak sama dengan diri kita di usia 40 tahun.
Pengalaman hidup mengubah kita. Kehilangan mengubah kita. Menjadi orang tua mengubah kita. Kegagalan mengubah kita. Ilmu juga mengubah cara kita melihat diri.
Maka mengenal diri bukan sebuah titik akhir, tapi sebuah perjalanan panjang untuk terus bertanya, mengamati, memperbaiki, dan menata diri.
Dan mungkin di situlah letak kebahagiaannya.
Bukan karena setelah mengenal diri hidup kita menjadi bebas dari persoalan, tapi karena kita sadar bahwa dalam kehidupan, kita tidak sedang menjadi orang asing bagi diri sendiri.
Kita semakin tahu apa yang harus diperbaiki, apa yang harus diterima, apa yang harus dilepaskan, apa yang perlu diperjuangkan, Dan kepada siapa akhirnya seluruh perjalanan ini harus kembali.
Semakin kita mengenal diri, semakin kita menyadari betapa terbatasnya kita.
Wallahu 'alam
Komentar
Posting Komentar