FENOMENA "AKU"

 

Fenomena “Aku”

“Aku berhak bahagia”, 

“aku butuh ruang”, 

“aku tidak mau ikut campur”, 

“yang penting tidak mengganggu orang lain”.

“Bukan urusanku.”

“Aku tidak membutuhkan orang lain.”

“Selama tidak merugikan aku, aku tidak peduli.”

“Agamaku cukup menjadi urusan pribadiku dengan Tuhan.”

Pernyataan-pernyataan itu Sebagian sehat sebagai batas diri, tetapi ketika semuanya berpusat pada kepentingan pribadi, munculah individualisme. 

Apakah Islam memang mendidik manusia untuk hidup seperti itu?

Jawabnya Islam tidak menghapus “Aku”.

Setiap manusia tetap bertanggung jawab secara personal di hadapan Allah : Iman, niat, amal, dosa dan taubat tidak bisa diwakilkan. 

coba kita perhatikan Rukun Islam, ada syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji. 

ini menggambarkan bahwa Sebelum menjadi bagian dari jamaah, seorang Muslim terlebih dahulu menegakkan tauhid: aku bersaksi. Hubungan manusia dengan Allah menjadi fondasi. 

Tetapi Islam tidak berhenti pada “Aku”.

Setelah syahadat, struktur kehidupan Islam berkali-kali mempertemukan manusia dengan manusia: shalat berjamaah dan Jumat, zakat dengan penerimanya, Ramadhan yang dijalani umat, hingga haji yang mempertemukan Muslim lintas bangsa.

SYAHADAT → “Aku beriman.”

Fondasi personal: tauhid dan ketundukan kepada Allah.

SHALAT → “Aku berdiri bersama.”
Shalat adalah kewajiban individual, tetapi ada jamaah, masjid, saf, Jumat, imam dan makmum. Bahkan dalam saf, status sosial seakan dilepaskan: berdiri sejajar menghadap kiblat yang sama.

ZAKAT → “Hartaku tidak hanya tentang aku.”
Ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Kepemilikan pribadi tidak berarti kebebasan mutlak untuk mengabaikan masyarakat.

PUASA → “Aku menahan diri bersama umat.”
Ibadahnya sangat personal—bahkan orang lain mungkin tidak tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa—tetapi waktunya menyatukan umat: Ramadhan, sahur, berbuka, kepedulian dan berbagi.

HAJI → “Aku bagian dari umat yang lebih besar.”
Perbedaan bangsa, bahasa, pekerjaan, kekayaan, dan kedudukan bertemu dalam ibadah kepada Allah yang sama.

Dari “Aku” menuju “Kita”
Semakin seseorang hidup dalam Islam, seharusnya kesadarannya bukan hanya apa yang baik untukku, tetapi juga apa kewajibanku terhadap orang lain? 

Kritik terhadap individualisme hari ini
Bukan kritik terhadap privasi, kemandirian atau personal boundaries. Yang perlu dikritisi adalah ketika batas diri berubah menjadi ketidakpedulian dan agama direduksi menjadi urusan “aku dan Tuhan”. 

Islam tidak meminta manusia kehilangan dirinya di tengah jamaah. Namun Islam juga tidak mendidik manusia untuk menjadikan dirinya sebagai pusat kehidupan. 

Bukan kehilangan “aku”, melainkan menempatkannya dengan benar:

Tauhid membangun “Aku”.
Syariat mempertemukan “Aku” dengan “Kamu”.
Jamaah mengajarkan “Kita”.
Dan dari “Kita”, lahirlah umat.

QS. Al-Hujurat [49]:13 "Manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar “saling mengenal” 

Mari kita bercermin jangan-jangan kita masih rajin menjalankan ritual Islam, tetapi cara hidup kita perlahan menjadi semakin individualistis.

Wallahu 'Alam 


Terinspirasi dari Artikel "MISKAWAYH oleh Dr Nadia Jamal al-Din"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Siapa yang salah?”

CAMP MR_2

Rakyat, Pemimpin, dan Kepercayaan