Apakah Multitasking itu Keren ?
Apa itu Multitasking?
Otak Terbagi
Katanya perempuan itu jago multitasking.
Satu tangan mengaduk masakan, satu mata melihat grup WhatsApp, pikiran mengingat tugas kuliah, memikirkan deadline pekerjaan, sambil telinga mendengarkan panggilan, “Bundaaaa….”
Kadang rasanya kepala ini isinya belasan tab yang terbuka sekaligus.
Sebagai ibu rumah tangga, mahasiswa, sekaligus pekerja, kita cukup akrab dengan multitasking.
Bahkan dulu saya menganggap kemampuan mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan adalah salah satu tanda produktif. Semakin banyak yang dikerjakan, semakin hebat.
Ternyata psikologi melihatnya sedikit berbeda.
Pada pekerjaan yang membutuhkan perhatian dan konsentrasi, otak kita sebenarnya tidak selalu mengerjakan beberapa hal sekaligus. Yang lebih sering terjadi adalah task switching.
Sedang membaca materi kuliah. tiba-tiba Terdengar notifikasi.
Buka pesan sebentar. Balik lagi ke materi.
Lalu berpikir, “Tadi sampai mana?”
Nah, itu dia.
Setiap perpindahan perhatian membutuhkan energi mental. Semakin sering kita berpindah, semakin banyak pula tenaga kognitif yang digunakan hanya untuk kembali menyesuaikan diri dengan tugas sebelumnya.
Di sinilah multitasking mulai berkaitan dengan mental health.
Multitasking tentu bukan berarti seseorang otomatis mengalami gangguan mental. Namun jika perhatian terus-menerus terbagi, ditambah tuntutan berbagai peran, pikiran bisa terasa selalu penuh.
Misal ketika sedang di Kantor mengerjakan deadline tugas, tapi disaat bersamaan juga mendengarkan zoom, lalu harus membalas chat. Dalam situasi ini, yang terjadi sebenarnya bukan tiga pekerjaan berjalan secara bersamaan, tetapi otak terus berpindah fokus.
Masalahnya, ketiga aktivitas itu sama-sama membutuhkan perhatian sadar. Karena kapasitas working memory dan perhatian terbatas, maka yang terjadi kualitas salah satu atau semuanya bisa menurun. Jadi, yang melelahkan bukan hanya banyaknya pekerjaan, tetapi otak yang terus-menerus dipaksa berpindah konteks.
Saat tubuh ada di satu tempat, pikiran berkeliling ke mana-mana. Lama-lama muncul kelelahan mental. Kadang menjadi lebih mudah tersinggung. Konsentrasi menurun. Hal kecil terasa berat. Bahkan waktu istirahat pun tidak benar-benar terasa sebagai istirahat karena otak masih sibuk menyusun daftar pekerjaan.
Apa Dampaknya?
Dalam jangka panjang, kebiasaan task switching yang intens dapat membuat otak lebih sering berada dalam kondisi beban kognitif tinggi. Penelitian konsisten menemukan adanya “switch cost”: setelah berpindah tugas, respons cenderung lebih lambat dan kurang akurat karena otak harus mengatur ulang fokus dan informasi di working memory. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30719626/]
Jadi,
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Yang sebaiknya jangan dibiasakan adalah menggabungkan dua pekerjaan yang sama-sama membutuhkan konsentrasi, karena Kapasitas kontrol kognitif manusia memang terbatas untuk menjalankan beberapa tugas yang membutuhkan perhatian secara bersamaan: cth: mengikuti kuliah sambil membalas WhatsApp, membaca materi sambil mengikuti percakapan penting, menulis tugas sambil membuka media sosial setiap beberapa menit, atau bekerja sambil terus bereaksi terhadap notifikasi.
Refleksi Diri
“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”(QS. Al-Insyirah: 7–8)
Ayat ini membuat saya belajar bahwa hidup memang berisi banyak urusan, tetapi tidak berarti semuanya harus memenuhi kepala pada saat yang sama. Ada yang dikerjakan sekarang, ada yang menunggu giliran, dan ada yang memang perlu kita serahkan kepada Allah.
Sebab menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari seluruh kesibukan. Kadang justru berarti mengetahui kapan harus fokus, kapan harus jeda, dan kapan harus berkata kepada diri sendiri: “Yang ini dulu. Yang lainnya nanti.”

Komentar
Posting Komentar