CAMP MR_4
Law Of Projection
Dalam kesempatan ini saya mencoba sampai tiga kali hingga keramik itu terbelah dua.
Selanjutnya saya belajar Law of Projection — hukum pantulan, kira-kira begitu artinya kalau dibahasaindonesiakan.
Dalam hidup sehari-hari, ini terjadi terus tanpa kita sadari. Misalnya, kalau kita sedang kesel sama seseorang, lalu merasa semua orang lagi nyebelin — padahal yang lagi kusut itu sebenarnya hati kita sendiri. Dunia seperti cermin: apa yang kita pancarkan, itu juga yang balik ke kita.
Kalau diibaratkan, hati itu layar. Pikiran dan perasaan kita adalah proyektor. Apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan, akan “terpancar” keluar dan membentuk pengalaman kita.
Ustadz Nas minta kita untuk masuk dalam dunia quantum agar bisa menjadi "ajaib"
⚛️ Dalam dunia Quantum Physics
Ilmu kuantum bilang: realitas itu tidak statis.
Partikel bisa berperilaku sebagai benda atau gelombang tergantung siapa dan bagaimana yang mengamatinya (observer effect).
Artinya, cara kita memandang sesuatu bisa memengaruhi bagaimana sesuatu itu “menjadi.”
Kaitkan ini dengan kehidupan:
Kalau seseorang memandang dunia sebagai tempat kekurangan, maka ia hanya akan menemukan bukti-bukti kekurangan.
Tapi kalau ia memandang dunia penuh kemungkinan, maka kesempatannya muncul di tempat yang sama, hanya karena cara melihatnya berubah.
Itulah proyeksi di level kuantum: realitas terwujud dari kesadaran yang mengamatinya.
🌿 Dalam ilmu Magnet Rezeki
Konsep dasarnya: rezeki itu bukan sekadar hasil kerja keras, tapi hasil frekuensi hati.
Kita memancarkan getaran—dari pikiran, perasaan, niat—yang kemudian “memanggil” hal-hal dengan getaran serupa.
Kalau hati penuh syukur, yakin, dan pasrah pada Allah, maka alam semesta seperti ikut “selaras” memudahkan jalan.
Sebaliknya, kalau isi kepala kita penuh takut, minder, atau marah, maka yang datang biasanya seirama dengan itu: peluang tertutup, rezeki terasa seret, atau orang-orang di sekitar jadi ikut keras.
Nah, di sinilah Law of Projection bekerja:
apa yang kita lihat sebagai “kenyataan” sebenarnya adalah pantulan dari isi pikiran dan perasaan kita.
Bukan rezekinya yang menjauh, tapi frekuensi hati kita yang sedang tidak cocok dengan gelombang rezeki itu.
Maka memperbaiki pikiran—bukan berarti memanipulasi realita—tapi menyelaraskan diri agar pantulan hidupnya jadi lebih jernih.
💫 Titik temu keduanya
Hati → pemancar frekuensi
Pikiran → pengarah gelombang
Realitas → pantulan dari getaran itu
Dalam bahasa spiritual Islam, ini bukan sihir atau kebetulan.
Ini sunnatullah — hukum sebab-akibat yang halus:
"Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11)
Allah tidak menyuruh kita mengubah nasih dengan kerja kerja dan kerja tapi Allah minta kita mengubah kualitas diri kita.
Jadi, Law of Projection dalam Magnet Rezeki dan dunia Quantum sama-sama mengingatkan hal sederhana:
ubah isi hati, perbaiki sudut pandang, maka gelombang hidup ikut berubah.
Bukan karena semesta tunduk pada kita, tapi karena hati yang tenang lebih mudah menangkap pertolongan Allah.
Kita tidak sedang menciptakan rezeki—kita sedang menyingkirkan kabut yang menutupinya.
Dalam Camp ini juga kami melakukan Praktek LOP dengan simulasi, yaitu memecahkan keramik dengan Bohlam (bola lampu)
Bagaimana kekuatan fikiran bisa terbukti disini.
Diarahkan oleh CTMR bagaimana posisi tangan saat melepas bohlam.
Dalam kesempatan ini saya mencoba sampai tiga kali hingga keramik itu terbelah dua.
Alhamdulillah tak ada satu bohlam pun yang hancur.
Masing masing peserta berbeda, tergantung kekuatan fikiran.
Ada yang satu kali keramik sudah terbelah. Tapi ada yang lebih tiga kali belum terbelah, ada juga yang bohlamnya hancur.
Suami dan anak saya, keramik terbelah menjadi tiga bagian hanya dua kali percobaan.
Ohya Keramik tersebut ditulisi Doa dan Harapan Kita, apapun yang baik, Doa itu boleh minta yang besar sekalipun karena Allah Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki.
Di Ilmu LoP ini bagi saya Tidak Mudah praktek di kehidupan sehari hari. Kebiasaan yg sudah terbentuk, suka overthinking, cemas tentang yang belum terjadi maka butuh konsisten diubah.
Bismillah perlahan lahan merubah diri sendiri.
Afwan,
Bersambung
Komentar
Posting Komentar