Sejarah Genosida Terulang


Dari Luka Menjadi Luka Lagi: 
Suara Kemanusiaan untuk Palestina

Ada satu ironi dalam sejarah yang tak mudah kuabaikan.

Dulu, jutaan orang Yahudi dibantai dengan kejam oleh Nazi. Dunia berkabung. Dunia menyesal. Dunia membela. Dan dari tragedi itu, lahirlah sebuah negara yang katanya ingin menjadi rumah aman bagi mereka yang pernah tertindas.

Tapi hari ini, aku justru melihat, negara yang lahir dari luka itu—melukai bangsa lain yang tak pernah punya tempat untuk sembunyi.

Gaza: Saat Tangisan Tak Lagi Didengar

Setiap hari, aku membaca berita.
Aku melihat foto anak-anak bersimbah debu, ibu yang menggenggam tubuh anaknya yang sudah dingin, rumah-rumah yang runtuh.
Aku menangis. Tapi air mata ini tak mengubah apa pun. Karena mereka terus dibunuh. Dikepung. Dipenjara dalam tanah yang tak bisa mereka tinggalkan.

Semua atas nama "membela diri". Tapi siapa yang membela anak-anak yang bahkan belum sempat bermain?

Dari Korban Menjadi Pelaku

Israel lahir dari pengalaman paling gelap manusia: Holocaust.
Tapi setelah mereka berdiri, bangsa Palestina justru dipaksa hengkang dari tanah yang mereka tempati selama ratusan tahun.

Bukan satu atau dua orang yang terusir—tapi satu bangsa.
Bukan satu atau dua hari—tapi puluhan tahun.

Dan sekarang, atas nama keamanan, mereka membombardir rakyat sipil, memblokade makanan dan obat-obatan, dan memadamkan kehidupan perlahan-lahan.

Apakah ini bukan bentuk genosida juga?

Aku Tidak Bicara Politik, Aku Bicara Nurani

Aku tidak sedang membela kelompok politik tertentu.
Aku tidak sedang berdebat soal sejarah panjang yang rumit.
Aku hanya ingin bicara soal satu hal: kemanusiaan.

Dan saat manusia tak bisa lagi membedakan siapa yang bersalah dan siapa yang hanya ingin hidup damai, di situlah kita kehilangan arah sebagai manusia.


Dunia Pernah Bilang “Never Again” — Tapi Sekarang Terulang

Dunia pernah berjanji bahwa genosida tidak akan terjadi lagi. Tapi sekarang, saat dunia menonton Gaza dari layar ponsel dan TV, janji itu seolah hanya retorika kosong.

Kita melihat. Kita tahu. Tapi kita diam.

Dan diam, hari ini, bukan netral. Diam adalah memilih berpihak pada pelaku.

Aku Tak Punya Kekuatan Besar. Tapi Aku Punya Suara

Mungkin aku bukan siapa-siapa.
Mungkin suaraku hanya satu di antara jutaan.
Tapi aku tidak akan diam.
Aku akan terus berbicara, menulis, menyebarkan kesadaran. Karena diam adalah kejahatan paling halus yang pernah diciptakan manusia.

Aku menulis ini bukan untuk menyalahkan semua orang. Tapi untuk mengajak kita melihat dengan hati, bukan hanya dengan mata atau berita.
Karena hari ini, saat satu bangsa dilenyapkan perlahan-lahan, diam berarti menyetujui.

Dan kelak, ketika sejarah menuliskan bab ini, aku ingin anak-anakku tahu:

> “Ibumu pernah bersuara. Meskipun kecil, ia memilih untuk tidak membisu.”

🕊️ #KemanusiaanUntukPalestina
#DariIbuUntukDunia
#JanganDiam




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life Path Number

World Lupus Day : PLSS

Ternyata Titik Balik Itu Mulai di 1 Mei