Tiga Mangkok Mie

Ini bukan tulisanku, tapi aku ingin membagi pesan yang disampaikan penulisnya. Menurutku suatu pelajaran yang sangat berharga.
Foto hanya ilustrasi

Tiga Mangkuk Mie dan Pelajaran Hidup yang Tak Lekang Waktu

Masa kecilku adalah panggung seorang raja kecil yang takhta kerajaannya adalah "aku". Semua harus berpusat padaku, yang terbaik harus menjadi milikku. Tak heran, satu per satu teman menjauh, meninggalkan singgasana egoku yang terasa semakin sunyi. Anehnya, aku tak pernah merasa bersalah. Bagiku, dunia yang salah, orang lain yang keliru.

Hingga suatu hari, ayahku, dengan kebijaksanaan yang selalu mengalir tenang, menyajikan tiga pelajaran hidup yang terbungkus dalam tiga mangkuk mie sederhana.

Pelajaran Pertama: Ilusi di Balik Mata

Sore itu, aroma kuah mie yang gurih menyeruak di dapur kecil kami. Ayah meletakkan dua mangkuk di meja. Yang satu tampak menggoda dengan sebutir telur kuning keemasan bertengger di atasnya. Mangkuk lainnya polos, tanpa hiasan.

"Nak," kata ayah lembut, "pilihlah."

Saat itu, telur adalah kemewahan. Hanya di hari raya kami bisa menikmatinya. Tanpa ragu, tanganku meraih mangkuk dengan telur. Dalam hati, aku memuji kecerdikanku. "Lihatlah, aku selalu tahu cara mendapatkan yang terbaik!"

Namun, kesombonganku runtuh seketika. Saat ayah mulai menyantap mienya, kulihat dua butir telur tersembunyi di bawah mie, seperti harta karun yang tak terduga. Rasa sesal menghantamku. Aku terlalu terburu-buru, terlalu yakin dengan apa yang kulihat di permukaan.

Ayah tersenyum penuh pengertian. "Anakku," ucapnya pelan, "ingatlah ini: Apa yang dilihat matamu, belum tentu kebenaran yang sesungguhnya."

Lanjutnya dengan nada bijak, "Jika kamu berniat mengambil keuntungan dari orang lain, pada akhirnya kamu akan merugi." Kata-kata itu seperti anak panah yang menancap tepat di jantung keegoisanku.

Pelajaran Kedua: Pengalaman Bukanlah Segalanya

Keesokan harinya, adegan serupa terulang. Dua mangkuk mie di atas meja, satu dengan telur, satu tanpa. Kali ini, aku merasa lebih bijak. Pengalaman kemarin telah mengajariku untuk tidak terburu-buru.

"Aku pilih yang ini, Ayah," kataku, menunjuk mangkuk tanpa telur. Aku yakin, pasti ada kejutan tersembunyi di baliknya.

Namun, kali ini dugaanku meleset. Setelah mengaduk-aduk mie, tak kutemukan satu pun telur. Kekecewaan menyergapku. Ayah kembali tersenyum, namun kali ini senyumnya mengandung sedikit geli.

"Anakku," ujarnya, "kamu benar, pengalaman itu penting. Tapi, kamu tidak bisa selalu bergantung padanya, karena hidup terkadang bisa mengecohmu."

Beliau melanjutkan dengan nada menenangkan, "Jangan terlalu marah atau sedih. Anggaplah ini sebagai pelajaran berharga yang tidak akan kamu temukan di buku pelajaran mana pun." Aku terdiam, meresapi kebenaran kata-katanya. Hidup memang penuh kejutan, dan tidak semua pola akan berulang.

Pelajaran Ketiga: Memberi Lebih Berarti Daripada Menerima

Hari ketiga, dua mangkuk mie kembali tersaji. Kali ini, hatiku lebih tenang. Aku telah belajar dua pelajaran berharga. Ketika ayah mempersilakanku memilih, aku justru menolaknya.

"Ayah duluan," kataku tulus. "Ayah adalah kepala keluarga, yang telah bekerja keras untuk kita semua."

Ayah tersenyum hangat dan mengambil mangkuk dengan satu telur di atasnya. Dalam hatiku, aku pasrah. Mungkin memang tidak ada telur untukku kali ini. Namun, betapa terkejutnya aku ketika menemukan dua butir telur tersembunyi di dasar mangkukku!

Ayah menatapku dengan cinta di matanya. "Anakku, ingatlah ini: Ketika kamu memikirkan kebaikan orang lain, hal-hal baik akan selalu datang kepadamu."

Tiga mangkuk mie itu bukan hanya sekadar makanan. Itu adalah tiga babak penting dalam perjalanan hidupku. Kata-kata ayahku menjadi kompas yang menuntunku hingga hari ini. Aku belajar bahwa keegoisan hanya akan membawa kesepian dan kerugian. Berpikir untuk kepentingan diri sendiri memang naluriah, namun belajar untuk memberi dan mengutamakan orang lain justru membuka pintu rezeki dan kebahagiaan yang tak terduga.

Seperti yang tertulis, "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." Sebaliknya, ketika hati dipenuhi dengan kebaikan dan kepedulian, kedamaian dan keberkahan akan senantiasa menyertai. Dan aku bersyukur, ayahku telah menanamkan benih kebijaksanaan itu dalam hatiku melalui tiga mangkuk mie sederhana.

By : @gemboy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life Path Number

World Lupus Day : PLSS

Ternyata Titik Balik Itu Mulai di 1 Mei