Selagi Masih Ada Kesempatan

"Semakin bertambah usia maka makin terasa dunia itu hanya sementara".

“Pernahkah kamu berhenti sejenak dan bertanya, ‘Untuk apa sebenarnya aku hidup?’ Di antara hiruk-pikuk dunia, kadang kita lupa bahwa waktu terus berjalan, dan hidup adalah soal kesempatan—yang jumlahnya mungkin hanya tiga.”

Tiba tiba saja merenung, apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan dalam hidup ini? Allah telah memberi kesempatan untuk menikmati hidup, lantas kesempatan itu dihabiskan untuk apa?

Coba deh flash back..
Ketika usia anak- anak sepertinya hidup itu hanya bermain yang prioritas, walaupun ada "paksaan" belajar dan membantu orang tua tapi di kepala prioritas tetap bermain. Mungkin ini terjadi pada usia 6- 12 tahun.

Sedangkan sejak usia 0 - 5 tahun prioritas itu makan + bermain. Namun seiring waktu makan tak lagi menjadi prioritas.

Lihat saja bayi pasti akan menangis jika lapar atau haus. Lalu akan tertawa jika diajak bermain, damai sekali lihatnya, benar benar tak ada beban. 
Begitu juga pada usia balita, pelajarannya adalah bagaimana makan sendiri juga bermain sendiri. Yang mereka tahu sejak bangun tidur adalah :
"hari ini mau main apa ya.."

“Namun hidup tak selamanya tentang permainan. Ketika usia bertambah, tanggung jawab perlahan hadir…”

Saatnya memasuki usia remaja. 
Di fase ini sebetulnya proses menuju masa depan, jadi tak heran jika orang tua "memaksa" agar belajar menjadi prioritas, bermain telah dibatasi. Sebagian besar waktu diisi dengan belajar dan belajar.  Ya kira kira 10 tahun, sejak smp sampe jadi sarjana.
Rata rata sampai usia 22 tahun.
Ini adalah kesempatan pertama yang Allah berikan di dunia yaitu perjalanan belajar.

Kesempatan kedua
Menjadi dewasa. Usia yang penuh tanggung jawab pada diri sendiri, pada keluarga juga lebih luas lagi pada masyarakat. 
Di fase ini saatnya menggunakan bekal yang telah dikumpulkan. 
Mencari pekerjaan, berkeluarga juga berorganisasi. Episode dimana menunjukkan kualitas diri. Namun saat dalam fase ini kadang bisa tergelincir pada hal hal yang tidak baik. Misal terlalu fokus pada dunia sampai lupa akhirat. Atau contoh lain, berharap hasil yang instan sehingga menghalalkan segala cara. 
Lalu bagaimana supaya pada kesempatan kedua ini kita selamat dunia dan Insya Allah untuk akhirat?

Kalo menurut pendapatku, kuncinya pada kesempatan pertama yang Allah berikan. Pada saat itu apakah kita telah dibekali tentang keyakinan pada Allah? Jika iya maka saat di kesempatan kedua kita tergelincir, Insya Allah, Allah akan menyelamatkan jika kita mau bertaubat. 

Saat di kesempatan kedua ini rata rata kita diusia kurang lebih 40 tahun.

Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata, “Allah Ta'ala menyebutkan orang yang sudah mencapai umur 40 tahun, maka sesungguhnya telah tiba baginya untuk mengetahui nikmat Allah Ta'ala yang ada padanya dan kepada kedua orang tuanya, kemudian mensyukurinya

Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Pantaslah jika mulai diusia 40 tahun sudah tidak lagi memikirkan dunia, tidak lagi memikirkan untuk menumpuk harta, tidak lagi mengejar jabatan. Fase ini adalah fase bersyukur atas nikmat Allah. Dan bersyukur telah diberi kesempatan sampai fase ini.

Dan pada saat itu kita merasa bahwa dunia bukanlah apa apa.
Yang kita kejar sebelumnya, baik itu finansial atau validasi orang untuk kita, saat ini semuanya tak lagi kita butuhkan. 

Kita akan sibuk pada memperbaiki kesalahan dan fokus melakukan hal baik. 
Menyibukkan hati untuk senantiasa mendekatkan pada Allah. 

Kembali ke awal tulisan ini, jika Allah membagi hidupmu menjadi tiga kesempatan maka kesempatan terakhir disaat usia lebih dari 40 tahun, gunakan waktumu untuk menumpuk bekal akhirat. 

Paksakan dirimu untuk ibadah 
Paksakan dirimu untuk istiqomah di jalan Allah.
Paksakan dirimu untuk bisa lebih bijaksana
Paksakan dirimu selalu mengingat bahwa saat ini sudah berada pada kesempatan terakhir. 

Tak tahu kapan waktumu tiba untuk dijemput.
Jangan sampai saat dijemput, ternyata waktumu lebih banyak dihabiskan untuk dunia.
😢😢.

“Selagi napas masih di dada, mari kita gunakan kesempatan terakhir ini untuk mencintai Allah lebih dari dunia. Karena sejatinya, kita semua sedang dalam perjalanan pulang."

Semoga Allah memudahkan menjalani proses kita ini di jalan yang lurus. 


Wallahu 'alam
❤️
'PR'






Komentar

  1. Di usia 40 memang sdh banyak perubahan, sdh lebih santai ttg dunia, ibadah lebih rajin, sdh lebih memerbanyak ibadah sunah, Masya Allah semoga bisa selalu istiqomah , karena itu yg sulot

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life Path Number

World Lupus Day : PLSS

Ternyata Titik Balik Itu Mulai di 1 Mei