Pelukan dari Selatan Sumatera - Indonesia : Surat Seorang Ibu Untuk Gaza"

Dear Ibu Yang Memiliki Cinta, 
Aku menulis sebagai seorang ibu—bukan aktivis, bukan politisi, bukan tokoh berita. Dari sudut rumah kecil di Selatan Sumatera - Indonesia di mana anakku belajar menyebut kata "damai" sebelum ia tahu cara membaca.
Aku menyaksikan walau hanya dimedia ada dunia yang perlahan terbakar. 
Aku bukan siapa-siapa bagi dunia, tapi aku percaya, cinta seorang ibu bisa melintasi lautan, menembus batas negara, dan menyentuh ibu lain yang tengah merunduk di balik reruntuhan di Gaza. Ini bukan sekadar puisi. Ini adalah napas panjang kemanusiaan, yang lahir dari rasa cinta pada hidup—dan rasa luka saat melihatnya dihancurkan.

Judul: “Pelukan dari Selatan Sumatera - Indonesia : Surat Seorang Ibu untuk Gaza”

Aku menulis ini dari jauh-
bukan dari ibukota negara yang gegap gempita,
tapi dari kamar kecil tempat anakku
merangkai “cinta” dengan warna warna indah
di setiap sudut rumah kami.

Dan saat ia bertanya,
“Bunda, kenapa ada anak-anak Palestina harus terbunuh dengan keji?”
aku diam,
karena tak ada ibu yang siap menjelaskan
bahwa dunia ini, kadang, lebih kejam dari dongeng paling gelap.

Gaza,
Namanya sering muncul di berita,
di antara korban dan suara dentuman
yang tidak bisa ditranskripsikan menjadi pelajaran sekolah.
Tapi bagiku, Gaza bukan sekadar nama wilayah,
ia adalah wajahmu—ibu yang tak pernah kutemui
yang memeluk anakmu saat dunia mengguncang atapmu.
Dan dalam pelukan itu, aku melihat diriku.

Apa yang memisahkan kita?
Jarak, itu pasti.
Bahasa, mungkin.
Tapi tidak pada CINTA.
Karena cinta seorang ibu
melampaui perbedaan bendera,
lebih kuat dari semua perjanjian antar negara
yang sering hanya bicara, tanpa benar-benar mendengar.

Kita sama-sama tahu rasanya takut.
Sama-sama tahu rasa khawatir
yang menyelinap di balik selimut malam.
Dan saat sirene berbunyi di langitmu,
aku tahu detik itu kau menghitung napas anakmu
sama seperti aku menghitung langkahnya menuju sekolah.

Dunia melihatmu sebagai angka:
"18 anak tewas", “20 orang terluka”—
tapi aku melihatmu sebagai satu wajah,
satu tubuh yang menggigil, satu suara
yang tak sempat menangis karena harus bertahan.

Cinta,
adalah satu-satunya alasan kita terus berdiri.
Ia menjelma dalam tanganmu yang menutup telinga anakmu dari bunyi ledakan.
Ia tumbuh dalam doaku, agar anakmu dan anakku bisa tumbuh di dunia yang memilih merawat, bukan menghabisi.

Aku tidak punya kuasa
untuk menghentikan rudal atau menggugah pemimpin dunia.
Tapi aku punya pena dan kasih,
dan keberanian untuk tidak diam.

Maka puisi ini,
adalah pelukan dari belahan bumi Allah.
Pelukan dari satu ibu kepada ibu lain
yang tidak mengenal asing dalam air mata.
Karena ketika seorang ibu kehilangan anaknya,
dunia kehilangan masa depannya.

Aku ajarkan anakku untuk tidak hanya tahu
apa itu Palestina,
tapi juga bagaimana rasanya menjadi anak-anak Palestina.
Agar empatinya bukan teori,
melainkan tindakan kecil sehari-hari:
menyisihkan jajan untuk kotak donasi,
menggambarkan burung yang bisa terbang bebas,
berdoa untuk teman yang tak pernah ia kenal namanya.

Karena aku percaya:
dari rumah-rumah kecil disini,
dari hati para ibu yang bersatu tanpa bertemu,
dunia bisa dipulihkan—
bukan oleh kekuasaan,
tapi oleh cinta yang cukup berani untuk terus berharap
meski langit sering tak menjanjikan esok.

Semoga Damai bersama Cintamu-

...

Dear Semua Ibu,
Dalam dunia yang penuh angka angka, suara seorang ibu kerap tenggelam tak didengar. Padahal dari rahim ibu-ibu seperti kita, lahirlah harapan yang masih percaya pada dunia yang bisa disembuhkan. Puisi ini bukan hanya tentang Palestina. Ini tentang kita semua—tentang bagaimana cinta bisa jadi bentuk paling radikal dari perlawanan.

Mari berdoa dan berusaha menjadikan anak anak kita kelak menjadi pemimpin di negaranya sendiri, merawat dan mencintai tanah airnya seperti mencintai IBU-nya. [Aamiin]. Bukan anak anak yang mengambil keuntungan,  menggerogoti perlahan negaranya hanya untuk memuaskan nafsu dunia. [Naudzubillah]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Life Path Number

World Lupus Day : PLSS

Ternyata Titik Balik Itu Mulai di 1 Mei